Kasus Leptospirosis di Bantul pada 2025 Meningkat, Warga Diimbau Waspada

EKO HERRI PURWANTO 09 Januari 2026 08:41:27 WIB

Srimartani. Kasus Leptospirosis di Kabupaten Bantul pada tahun 2025 mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun 2024. Hingga saat ini tercatat sebanyak 234 kasus dengan jumlah kematian mencapai 12 orang. Angka tersebut menjadikan Bantul sebagai kabupaten dengan kasus Leptospirosis tertinggi di antara kabupaten/kota lain di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans. Penyakit ini dapat menular ke manusia melalui hewan, seperti sapi, kerbau, kuda, domba, kambing, babi, anjing, dan terutama tikus. Penularan terjadi ketika bakteri masuk ke dalam tubuh melalui kulit yang terluka atau lecet, serta melalui selaput lendir seperti mata, mulut, dan saluran pencernaan akibat kontak dengan air, makanan, atau lingkungan yang terkontaminasi kencing tikus.

Tanda dan gejala klinis Leptospirosis antara lain demam, nyeri kepala, kemerahan pada mata akibat pendarahan, serta nyeri pada betis. Pada kondisi yang lebih berat, penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan organ yang ditandai dengan munculnya penyakit kuning, pendarahan, gagal ginjal, hingga berujung pada kematian.

Untuk menekan peningkatan jumlah kasus, penularan, dan kematian akibat Leptospirosis, Lurah Srimartani H.Mulyana menghimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan langkah-langkah pencegahan. Upaya tersebut antara lain dengan membersihkan rumah dan lingkungan secara rutin guna mengurangi tempat berkembang biaknya tikus, menjaga kebersihan saluran air atau got agar tetap lancar, serta menyimpan dan menutup makanan dan minuman dengan baik agar terhindar dari jangkauan tikus.

Selain itu, masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke Puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala demam dengan atau tanpa sakit kepala, disertai nyeri otot, lemas, dan memiliki riwayat kontak dengan aktivitas lingkungan yang berisiko. Pengelolaan limbah rumah tangga yang baik, menutup rapat tempat sampah, serta memastikan ketersediaan sumber air bersih yang bebas dari kontaminasi kencing tikus juga menjadi langkah penting dalam pencegahan.

Masyarakat juga diimbau untuk membiasakan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir setelah beraktivitas, terutama di lingkungan dengan populasi tikus tinggi, serta menggunakan alas kaki, sepatu, dan masker saat beraktivitas di area berair, berlumpur, atau tergenang yang berpotensi tercemar kencing tikus. Red-Cr.

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
Isikan kode Captcha di atas
 

LAGU INDONESIA RAYA

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Jumlah Pengunjung
Kebijakan Privasi

Website desa ini berbasis Aplikasi Sistem Informasi Desa (SID) Berdaya yang diprakarsai dan dikembangkan oleh Combine Resource Institution sejak 2009 dengan merujuk pada Lisensi SID Berdaya. Isi website ini berada di bawah ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dan Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International (CC BY-NC-ND 4.0) License